Tersebutlah pada jaman dahulu di daerah Sentani diceritakan,bahwa burung Kasuari
dulunya bersayap dan pandai sekali terbang. Ia dapat terbang tinggi dan jauh ke mana saja dikehendaki. Kegemaran Kasuari ini terutama ia suka sekali makan burung-burung kecil di hutan. Bilamana sang Kasuari datang,burung-burung kecil itupun bterbangan mencari perlindungan. Hidupnya terganggu karena selalu dikejar-kejar oleh Kasuari.
Pada suatu hari berkumpul-lah burung-burung kecil ini untuk bermufa-kat. Dalam pertemuan ini burung yang tertua meng-anjurkan agar masing-masing memberikan pendapatnya. Pertama-tama pendapat yang disetujui bersama ialah mematahkan sayap burung Kasuari sehingga dengan demikian ia tidak dapat lagi terbang di angkasa. Untuk mencapai tujuan ini perlu dipikirkan suatu cara dan kepada siapakah di antara mereka yang berani melaksanakan tugas ini.
Tiba-tiba suasana menjadi sepi sebab tidak ada yang menjawab. Mereka menjadi takut dan sedih karena tubuhnya kecil bila di bandingkan dengan tubuh Kasuari yang besar. Tiba-tiba burung Pipit yang terkecil itu memberanikan diri untuk mengemukakan suatu pendapat,antara lain :
Penganugrahan sebuah kalung wasiat peninggalan nenek moyangnya kepada sang Kasuari. Selain itu ia menyatakan sanggup melaksanakan sendiri. Semua kawan-kawannya heran dan bertanya dalam hati:
Dapatkah ia mengalahkan Kasuari?
Setelah disetujui bersama,ia pergi mendapatkan Kasuari serta memberitahukan tentang penganugerahan kalung wasiat. Kasuaripun setuju dan berterima kasih atas kehormatan yang diberikan oleh burung Pipit. Keesokan hari si pipit menyuruh teman-temannya beserta Kasuari untuk berkumpul ke sebuah bukit yang indah pemandangannya. Semua burung memperhatikan dengan hati yang berdebar-debar apa gerangan yang akan terjadi. Dari jauh datanglah burung pipit sambil membawa kalung wasiat yang berwarna kuning kemerah-merahan pada paruhnya. Kedatangan burung pipit ini disambut dengan sorak sorai dan suaranya kedengaran bagaikan gemuruh bagaikan guntur yang menggema di langit. Setiba di tempat upacara penganugerahan,kalung wasiat itupun segera dikalungkan pada leher sang Kasuari. Kemudian diciumnya beberapa kali sehingga Kasuari tidak menduga sesuatu apapun terhadap si pipit.
Setiap ciuman yang diberikan dipergunakannya untuk mencotok kedua mata sang Kasuari. Semula Kasuari merasa pedih di matanya,tetapi itu dianggap hanya diakibatkan oleh sayap burung pipit. Lama kelamaan kesakitan yang terasa di matanya semakin bertambah parah. Oleh sebab itu ia bermaksud menghindarkan diri ke sebuah pohon yang lebih tinggi. Tetapi rupanya penglihatannya kabur,akhirnya ia kurang hati-hati lalu jatuh terjerambat ke tanah. Akibatnya patahlah kedua sayapnya. Sejenak suasana menjadi sepi.... kemudian semua burung menjadi takjub melihat kenyataan kejadian itu. Bukan main gembira hatinya, karena si pipit telah mengalahkan Kasuari yang jahat itu. Pada saat itu burung pipit disanjung-sanjung dan tersiarlah namanya kemana-mana karena jasanya. Kini ketentraman hidup dan rukun telah tercapai. Jaman kejayaan,keangkuhan dan kesombongan Kasuari telah punah.
Sekarang Kasuari tidak berdaya lagi untuk terbang dan sebagai imbalan akibat perbuatannya, patutlah ia menerima balasannya,yaitu berkelana di bawah pepohonan dan memakan buah-buahan yang dijatuhkan oleh burung-burung kecil. Sejak kejadian itu sang Kasuari hanya mempunyai sayap kecil yang tidak dapat dipergunakan lagi sampe sekarang.
(Demikianlah cerita tentang Kasuri dan burung pipit,semoga bermanfaat)
By... Mobal@n-Jr
Kasuari dan Burung Pipit
·
Label: Cerita Rakyat Â
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Blog Stats
Label
- Cerita Mop/lucu (5)
- Cerita Rakyat (2)
- Puisi (3)
- Renungan (2)
Buku Tamu
Profil
- JHONER MOBAL@N
- Situs ini didedikasikan bagi para pengagum cinta, cinta pada tanah kelahiran, cinta kepada asal, cinta kepada tempat bekerja, cinta kepada kenangan dan cinta kepada harapan akan hari esok yang lebih baik, semua itu akan membawa kita kepada cinta terhadap Dia, yang menciptakan Tanah Sejuta Pesona, Tanah Penuh Harapan dan air mata, Tanah Papua...


0 komentar:
Posting Komentar